Ini adaah ceritaku, cerita dimana dari sebuah hal kecil yang rapuh mampu merubah hidupku seluruhnya.
Namaku Rere, umurku 10 tahun dan aku bersekolah di SD Harapan Bangsa . Hehehe ... kata - kata ku yang paling terakhir hanya candaan. Aku tidak bersekolah , "mengapa ?" karena aku tidak mempunyai biaya yang cukup . Hanya untuk makan, aku dan keluarga kecilku sudah cukup susah. Ayahku hanyalah seorang pekerja paruh waktu di toko beras sedangkan ibuku, ah ... kalau ku ingat beliau hatiku seperti tersayat - sayat. Ibuku meninggal setelah melahirkan adikku "Rena". Aku sangat sayang pada Rena, ia empat tahun lebih kecil dariku.
Setiap pagi aku dan adikku sudah mengambil alat - alat kecil kami berupa sebuah gitar dan sebua kaleng. Kami mengamen di setiap pelosok jalan. Ayahku sangat ingin menyekolahkan kami berdua, tapi apa boleh buat keterbatasan ekonomi ini membuat beliau tidak dapat berbuat apa-apa. aku pernah berkata, mungkin sangat sering ku katakan pada ayahku dan terutama pada diriku sendiri, "aku tidak perlu bersekolah, tak ada gunanya hanya buang-buang uang saja. Bagiku belajar itu tidak ada artinya untuk apa belajar kalau pada akhirnya menganggur juga. Lebih baik aku giat mencari uang untuk membantu ayah membiayai kelangsungan hidup kami bertiga." itulah pikiranku.
Seperti biasa pagi ini aku dan adikku melakukan aktivitas mengamen di jalan. Kami berdua beerjalan sepanjang hari dari lampu lalulintas satu dan yang lainnya untuk mencari seseorang yang mau membagi kehidupan dengan kami. Kami juga sering menyanyi di setiap warung makan di kawasan Bintaro. Semua pedagang si kawasan itu mengenal kami. mereka memanggil kami "RE bersaudara" itu karena nama kami di awali dengan dua huruf yang sama yaitu "RE", Rere dan Rena. Penghasilan dari mengamen setiap hari tidaklah sama terkadang cukup banyak, terkadang sedikit tergantung nasib. Sayangnya pada hari ini kami hanya memperoleh sedikit uang. Meskipun begitu kami tetap memamerkan senyuman manis kami di sepanjang perjalanan pulang.
Karena hasil mengamen sedikit maka pada makan malam kali ini aku hanya bisa menikmati selauk tempe goreng dan sepiring nasi putih. Meskipun begitu aku tetap bershukur pada tuhan atas pemberiannya. Ayah selalu mengajarkan kami tentang selalu bershukur atas apapun anugerah yang diberikan tuhan. Itulah ayahku meskipun tidak sampai mnginjak bangku SMP tetapi budi pekerti beliau yang sangat tinggi.
Aku sangat bangga pada ayahku. Setelah makan malam selesai, seperti biasa kami bertiga selalu duduk di teras rumah kami yang sederhana ini. "Melihat indahnya langit malam", itulah kegemaran kami bertiga setelah makan malam. Ayah selalu duduk diantara kami berdua. Beliau merangkul bahu kami berdua dan berkata, "Ibu pasti gembira melihat kedua buah hatinya sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik." Dengan senyuman di bibir kami serentak menjawab, "tentu saja karena ibu kami juga sangat cantik seperti bidadari."
bersambung~
tunggu lanjutannya !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar