Translate

Selasa, 25 Desember 2012

Buku Merubah Hidup Ku (2)





Kami terus memandang bintang karena terlalu lelah mengelilingi jalanan di siang yang sangat terik tanpa sadar aku terjatuh di pangkuan ayah dan langsung tertidur pulas. Tanpa sadar matahari sudah memancarkan sinarnya. Aku terbangun dan langsung membasuh muka. Ayah langsung berangkat kerja setelah memasak dan kami pun juga langsung mengambil alat-alat kesayangan kami.



Pada hari ini, matahari sangat semangat mengeluarkan sinarnya. Kami terasa seperti di panggang oleh sinarnya apalagi di tambah asap kendaraan di jalan. Ah… hari ini adalah hari terpanas sedunia. Meskipun begitu aku tetap semangat menyanyi disetiap lampu lalulintas. Ku lihat adikku, Rena sangat lesu, lalu kami beristirahat sebentar di warung. Kami memesan dua gelas air dingin dan segera meminumnya.



Tiba-tiba dari seberang jalan terdapat sekelompok anak memakai seragam putih. Sepertinya mereka masih belajar di sekolah dasar dan ah…, umur mereka sepertinya sebaya denganku. Mereka menyeberang jalan dan menuju tempat kami. Setelah sampai di warung tempat dimana kami sedang duduk, mereka memesan minuman. Mereka meminum minuman yang mereka pesan sambil berbincang bincang. Entah mengapa rasanya, apa yang mereka bicarakan sangat jauh dari dunia kami. Dengan segera aku menarik tangan adikku. Tanpa ku duga adikku, Rena melihat anak anak berseragam sekolah itu tanpa berkedip.



Aku tahu ia sangat ingin seperti mereka. Aku menarik tangannya lebih keras dan berkata, “Ayo dik, kita pergi!” Dengan tatapan sedih adikku menjawab, “Iya kak … “ Kami berjalan lagi menelusuri jalanan yang panas. Kemudian Rena menarik bajuku lalu berkata, “Kak .., aku iri dengan mereka.” Aku pun menjawab sambil mengelus rambut panjangnya. “Kita dilahirkan di dunia ini tidak dengan nasib yang serupa”.



Rena terdiam, mungkin dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang ku katakana. Tanpa ada pertanyaan dari Rena lagi kami berjalan dan terus berjalan sambil bernyanyi. Keesokan harinya tanpa kami duga kami bertemu kembali dengan murid SD itu lagi. Ekspresi Rena masih saja terlihat iri sekaligus sedih melihat mereka. Karena kasihan aku dengan diam-diam membeli sebuah buku di pasar loak. Buku cerita yang entah apa judulnya. Maklum aku tidak bisa membaca.



Ku bawa pulang buku itu dan pada malam harinya ku berikan buku itu kepada Rena. Terlihat dari wajahnya, Rena sangat senang menerima buku itu. Tetapi ada 1 masalah, kami berdua sama-sama tidak bisa membaca. Lucu sekali membeli buku tapi tak bisa membaca.



Agar bisa menceritakan isi buku itu pada Rena. Aku bersembunyi menyelinap ke sekolah untuk bisa belajar membaca. Ini hal yang paling aneh yang pernah ku lakukan. Meskipun aku sering mencuri mangga tetanggaku, Pak Bone tapi belajar sembunyi-sembunyi begini lebih aneh karena aku melanggar kata-kata ku sendiri. Tapi apa boleh buat ini untuk adikku, “Rena”.



Setiap pagi dengan giat aku belajar membaca meskipun masih terbata-bata. Dalam hati aku berkata, “Ternyata membaca itu mengasikan”. Hari demi hari, minggu demi minggu aku terus saja belajar membaca, dan pada akhirnya aku bisa lancar membaca.



Hari ini, hari yang sangat special bagiku. Akhirnya aku bisa lancar membaca. Malam harinya setelah selesai mengamen aku dan adikku duduk di teras, lalu mulai kubuka satu persatu halaman buku itu. Aku mulai membacanya dan kalian tahu adikku mendengarkan sambil tersenyum lebar. Akhirnya sekian menit kubacakan buku itu sambil tersenyum melihat ekspresi adikku.


Kemudian aku bertanya pada adikku, “Kau tahu apa arti kata-kata dalam buku ini?”. Rena tak menjawab, hanya menggeleng. Lalu akupun berkata, “Semua yang ada di dunia ini ternyata semua itu ada dalam benda berbentuk kecil yang rapuh ini, dan benda itu adalah sebuah buku ini.” Aku pun semakin gemar membaca. Sedikit dari uang hasil mengamenku kusisihkan untuk membeli buku. Banyak buku tentang orang-orang hebat di dunia ini dan aku mengikuti cara berfikir mereka.

Dan dari hasil belajar yang hanya bermodal buku bekas dan kerja keras yang hebat. Akhirnya aku bisa mengajari adikku dan menyekolahkan dia. Itulah ceritaku tentan sebuah hari yang gelap berubah menjadi terang oleh karena sebuah buku

 sedikit sejarah tentang cerpen ini :

cerpen ini aku buat dulu sewaktu duduk di bangku kelas 6 SD , niatku cerpen ini akan aku ikuti lomba di balai bahasa. Namun apadaya cerpen ini selesai setelah pendaftaran lomba baru saja di tutup. Aku sangat menyesal karena diriku terlalu lama berfikir sampai cerpen ini gagal ikut lomba. :')