Kami
terus memandang bintang karena terlalu lelah mengelilingi jalanan di siang yang
sangat terik tanpa sadar aku terjatuh di pangkuan ayah dan langsung tertidur
pulas. Tanpa sadar matahari sudah memancarkan sinarnya. Aku terbangun dan
langsung membasuh muka. Ayah langsung berangkat kerja setelah memasak dan kami
pun juga langsung mengambil alat-alat kesayangan kami.
Pada
hari ini, matahari sangat semangat mengeluarkan sinarnya. Kami terasa seperti
di panggang oleh sinarnya apalagi di tambah asap kendaraan di jalan. Ah… hari
ini adalah hari terpanas sedunia. Meskipun begitu aku tetap semangat menyanyi
disetiap lampu lalulintas. Ku lihat adikku, Rena sangat lesu, lalu kami beristirahat
sebentar di warung. Kami memesan dua gelas air dingin dan segera meminumnya.
Tiba-tiba
dari seberang jalan terdapat sekelompok anak memakai seragam putih. Sepertinya
mereka masih belajar di sekolah dasar dan ah…, umur mereka sepertinya sebaya denganku.
Mereka menyeberang jalan dan menuju tempat kami. Setelah sampai di warung
tempat dimana kami sedang duduk, mereka memesan minuman. Mereka meminum minuman
yang mereka pesan sambil berbincang bincang. Entah mengapa rasanya, apa yang
mereka bicarakan sangat jauh dari dunia kami. Dengan segera aku menarik tangan
adikku. Tanpa ku duga adikku, Rena melihat anak anak berseragam sekolah itu
tanpa berkedip.
Aku
tahu ia sangat ingin seperti mereka. Aku menarik tangannya lebih keras dan
berkata, “Ayo dik, kita pergi!” Dengan tatapan sedih adikku menjawab, “Iya kak
… “ Kami berjalan lagi menelusuri jalanan yang panas. Kemudian Rena menarik
bajuku lalu berkata, “Kak .., aku iri dengan mereka.” Aku pun menjawab sambil
mengelus rambut panjangnya. “Kita dilahirkan di dunia ini tidak dengan nasib
yang serupa”.
Rena
terdiam, mungkin dia tidak terlalu mengerti dengan apa yang ku katakana. Tanpa
ada pertanyaan dari Rena lagi kami berjalan dan terus berjalan sambil
bernyanyi. Keesokan harinya tanpa kami duga kami bertemu kembali dengan murid
SD itu lagi. Ekspresi Rena masih saja terlihat iri sekaligus sedih melihat
mereka. Karena kasihan aku dengan diam-diam membeli sebuah buku di pasar loak.
Buku cerita yang entah apa judulnya. Maklum aku tidak bisa membaca.
Ku
bawa pulang buku itu dan pada malam harinya ku berikan buku itu kepada Rena.
Terlihat dari wajahnya, Rena sangat senang menerima buku itu. Tetapi ada 1
masalah, kami berdua sama-sama tidak bisa membaca. Lucu sekali membeli buku
tapi tak bisa membaca.
Agar
bisa menceritakan isi buku itu pada Rena. Aku bersembunyi menyelinap ke sekolah
untuk bisa belajar membaca. Ini hal yang paling aneh yang pernah ku lakukan.
Meskipun aku sering mencuri mangga tetanggaku, Pak Bone tapi belajar
sembunyi-sembunyi begini lebih aneh karena aku melanggar kata-kata ku sendiri.
Tapi apa boleh buat ini untuk adikku, “Rena”.
Setiap
pagi dengan giat aku belajar membaca meskipun masih terbata-bata. Dalam hati
aku berkata, “Ternyata membaca itu mengasikan”. Hari demi hari, minggu demi minggu
aku terus saja belajar membaca, dan pada akhirnya aku bisa lancar membaca.
Hari
ini, hari yang sangat special bagiku. Akhirnya aku bisa lancar membaca. Malam
harinya setelah selesai mengamen aku dan adikku duduk di teras, lalu mulai
kubuka satu persatu halaman buku itu. Aku mulai membacanya dan kalian tahu
adikku mendengarkan sambil tersenyum lebar. Akhirnya sekian menit kubacakan
buku itu sambil tersenyum melihat ekspresi adikku.
Kemudian
aku bertanya pada adikku, “Kau tahu apa arti kata-kata dalam buku ini?”. Rena
tak menjawab, hanya menggeleng. Lalu akupun berkata, “Semua yang ada di dunia
ini ternyata semua itu ada dalam benda berbentuk kecil yang rapuh ini, dan
benda itu adalah sebuah buku ini.” Aku pun semakin gemar membaca. Sedikit dari
uang hasil mengamenku kusisihkan untuk membeli buku. Banyak buku tentang
orang-orang hebat di dunia ini dan aku mengikuti cara berfikir mereka.
Dan
dari hasil belajar yang hanya bermodal buku bekas dan kerja keras yang hebat.
Akhirnya aku bisa mengajari adikku dan menyekolahkan dia. Itulah ceritaku
tentan sebuah hari yang gelap berubah menjadi terang oleh karena sebuah buku.
sedikit sejarah tentang cerpen ini :
cerpen ini aku buat dulu sewaktu duduk di bangku kelas 6 SD , niatku cerpen ini akan aku ikuti lomba di balai bahasa. Namun apadaya cerpen ini selesai setelah pendaftaran lomba baru saja di tutup. Aku sangat menyesal karena diriku terlalu lama berfikir sampai cerpen ini gagal ikut lomba. :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar